Instalasi Rawat Jalan

Instalasi Rawat Jalan berfungsi sebagai tempat konsultasi, pemeriksaan, dan pengobatan pasien. Selain sebagai tempat perawatan, instalasi ini juga berfungsi sebagai area diskusi, bertukar pengetahuan dan pengalaman klinis antartenaga medis dan antartenaga kesehatan (Kunders GD, 2004). 

Meskipun instalasi ini disediakan bagi pasien yang membutuhkan perawatan singkat, Instalasi Rawat Jalan menjadi salah satu area tersibuk, dan memiliki lalu lintas terpadat (Wagenaar Cor, dkk, 2018). Pasien seringkali datang ke unit tersebut bersama-sama dengan pengantar menjadi salah satu penyebabnya. Dalam satu kunjungan, pasien pun membutuhkan perpindahan dari satu fasilitas ke fasilitas lainnya, seperti ke Unit Radiologi dan/atau ke Unit Laboratorium untuk melakukan tindakan diagnosis, ke Instalasi Farmasi untuk pembelian obat, dan ke bagian kasir untuk melakukan pembayaran. Hal tersebut mengakibatkan padatnya lalu lintas, tidak hanya lalu lintas pasien, namun juga lalu lintas petugas rumah sakit yang harus memindahkan arsip pasien, terutama jika rumah sakit belum menerapkan otomatisasi. 

Perawatan di Instalasi Rawat Jalan dapat mengeliminasi maupun mengurangi lama waktu perawatan pasien di rumah sakit, hal ini menjadi keuntungan bagi pasien karena dapat berdampak pada penghematan biaya yang dikeluarkan (Kunders GD, 2004). Rumah sakit pun mendapat keuntungan dari hal tersebut, sehingga meskipun menjadi area terpadat dan tersibuk, dengan desain dan organisasi ruang yang baik, dapat tercipta alur pasien dan petugas yang efisien di Instalasi Rawat Jalan. Alur yang efisien akan membuat operasional instalasi ini menjadi lebih efektif, sehingga dapat menjadi sumber pendapatan yang tinggi untuk rumah sakit. 

 

Lokasi 

Instalasi Rawat Jalan idealnya terletak di lantai dasar. Jam operasional unit ini terbatas, sehingga untuk alasan keamanan, instalasi ini perlu dipisahkan dari unit lain yang beroperasi 24 jam. Instalasi Rawat Jalan dapat terletak di dalam bangunan rumah sakit sebagai satu zona utuh, ataupun sebagai unit yang terdesentralisasi di berbagai area rumah sakit. 

Apabila meninjau hubungan Instalasi Rawat Jalan dengan instalasi lainnya, instalasi ini sebaiknya memiliki lokasi yang berdekatan dengan area admisi atau registrasi, rekam medik, serta area kegawatdaruratan. Kemudahan akses menuju laboratorium, radiologi, farmasi, serta unit rehabilitasi medik juga perlu dipertimbangkan, mengingat pasien rawat jalan seringkali memerlukan kunjungan terhadap area diagnostik maupun rehabilitasi. 

 

Desain 

Instalasi Rawat Jalan dapat dikembangkan kedalam berbagai model, seperti dirancang sebagai unit yang digunakan oleh berbagai disiplin (orthopedi, bedah, kesehatan jiwa, geriatri, dll.), atau dikelompokkan berdasarkan disiplin ilmu/ spesialis tertentu (THT-KL, urologi, optamologi, dll.). Setiap model perlu dilengkapi dengan area pendaftaran, ruang tunggu, ruang pemeriksaan/ konsultasi, dan ruang tindakan, yang didukung oleh ruang-ruang penunjang, serta ruang administrasi. Unit ini pun dapat dirancang secara tematik, contohnya saja poliklinik anak yang ditempatkan di gedung khusus perawatan ibu dan anak. Apabila dirancang dengan pendekatan tematik, Instalasi Rawat Jalan perlu dientegrasikan dengan layanan-layanan spesifik yang sesuai. Sehingga, poliklinik anak pada gedung khusus perawatan ibu dan anak akan teritegrasi dengan layanan perinatologi, NICU, PICU, maupun rawat inap khusus anak. 

 

Alur 

Terdapat setidaknya dua kelompok pengguna instalasi ini, yaitu pasien dan petugas. Petugas dapat dikelompokkan lagi menjadi petugas medis (dokter, residen, perawat), petugas logistik, dan petugas administrasi. Pemahaman atas kelompok pengguna membantu mengidentifikasi alur kegiatan di Instalasi Rawat Jalan. 

Bila meninjau alur kegiatan pasien di instalasi ini, sebelum melakukan pemeriksaan, pasien melakukan registrasi terlebih dahulu di area pendaftaran. Dari area tersebut, pasien akan menuju ruang tunggu untuk menunggu antrian pemeriksaan. Dalam sekali kunjungan, pasien rawat jalan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menunggu, baik menunggu di area registrasi, area periksa, maupun menunggu di unit instalasi lain untuk melakukan prosedur lanjutan. Memasuki ruang periksa, pasien dan tenaga medis akan berdiskusi perihal keluhan, diagnosa, opsi/ alternatif perawatan, rencana pengobatan, sekaligus jadwal pemeriksaan selanjutnya. 

Selain melayani konsultasi dengan pasien, petugas medis menghabiskan waktunya di ruang perawatan untuk melakukan pekerjaan administratif, maupun membimbing dokter- dokter muda (terutama di rumah sakit khusus pendidikan). Dilain sisi, selama jam operasional rawat jalan berlangsung, petugas administrasi akan mengelola serta mengedarkan rekam medik pasien ke ruang-ruang perawatan, sementara petugas logistik berwenang untuk mendistribusikan instrumen steril maupun linen bersih. 

Instalasi Rawat Jalan perlu dilengkapi dengan sistem petunjuk arah (wayfinding) dengan informasi yang jelas, dan mudah dipahami untuk membantu pasien menuju ruang-ruang perawatan, atau menuju instalasi lain secara mandiri. Ruang-ruang perawatan pun perlu dilengkapi nomor untuk memudahkan identifikasi. Kejelasan sistem petunjuk arah berdampak pada efisiensi waktu pasien dan pengunjung untuk menuju ruang-ruang yang dikehendaki. Aspek ini menjadi cukup vital, mengingat pengunjung rumah sakit sering kali datang dalam keadaan gelisah. 

 

Kebutuhan ruang 

Secara garis besar, unit rawat jalan dapat dikelompokkan kedalam dua zona, yaitu zona publik dan administrasi, serta zona perawatan. 

Di area publik, hal yang perlu diperhatikan adalah ruang tunggu. Ruang tunggu yang besar di instalasi ini justru dapat menjadi area penularan infeksi, mengingat semua orang dengan keluhan penyakit berkumpul di ruang tersebut. Perencanaan sistem tata udara dan pencahayaan yang baik perlu dicapai untuk meminimalkan resiko penularan infeksi. Pemisahan ruang tunggu pasien untuk penyakit infeksi dan non-infeksi juga dapat menjadi salah satu upaya pencegahan. Selain itu, ruang tunggu perlu dilengkapi dengan beberapa fasilitas, seperti water drinking fountain, coffee shop/ snack bar, dan fasilitas layanan telepon publik. 

Ruang-ruang konsultasi dan pemeriksaan menjadi area terpenting di Instalasi Rawat Jalan. Kedua ruang tersebut dapat terpisah ataupun bergabung. Kebutuhan fasilitas di setiap ruang konsultasi/ pemeriksaan bisa saja berbeda, bergantung dari tipe layanan yang diakomodasi. Sebagai contoh, poliklinik kebidanan dan penyakit kandungan akan membutuhkan meja khusus ginekologi, sementara pada poliklinik penyakit dalam, dibutuhkan tempat tidur periksa yang umum digunakan. 

Share your thoughts