Tidak adanya rencana induk pengembangan fisik (physical masterplan) merupakan salah satu faktor yang menyebabkan berbagai masalah dalam rumah sakit. Ketiadaan masterplan juga mengakibatkan banyak sumberdaya yang tidak teralokasikan secara efektif dan efisien, karena tidak adanya arahan pengembangan program-program serta fisik secara jelas.
Di sisi lain, disadari bahwa masterplan yang komprehensif akan membutuhkan waktu yang lama dan sumberdaya yang banyak. Oleh karenanya, selain masterplan, yang kerap diperlukan adalah adanya suatu rencana pengembangan fisik jangka panjang, yang dapat dijadikan arah pengembangan secara garis besar, sekaligus menjadi acuan bagi pengembangan unit-unit di dalam rumah sakit dalam mengemban program pengembangan pelayanan kesehatan jangka panjang, jangka menengah, serta jangka pendek.
Manajemen fisik tidak hanya berkaitan dengan arsitektur semata-mata, melainkan juga akan melihat rumah sakit sebagai sebuah asset properti, baik dalam kaitannya dengan lahan, bangunan, maupun infrastruktur. Hal ini akan terkait secara erat dengan aktivitas, layanan, serta program stratejik. Karenanya, integrasi antara manajemen fisik rumah sakit degan manajemen strategis rumah sakit menjadi sangat penting.
Secara umum dapat dikatakan bahwa ada 3 pendekatan dalam manajemen fisik. Pertama adalah pendekatan bagi rumah sakit yang belum ada atau belum beroperasi, dimana diperlukan suatu rencana dari awal: masterplan, rencana fisik, hingga rancangan detail. Kedua, adalah pendekatan bagi rumah sakit yang telah beroperasi dan membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Serta terakhir bagi rumah sakit yang telah menemui berbagai masalah dalam pengembangannya, dan justru terasa stagnan, dengan kondisi fisik (dan bisa jadi mempengaruhi layanan) yang memburuk.
